Pemulihan Layanan Dasar di Lokasi Bencana NTT Ditargetkan Tujuh Hari

gempa flores
Bagikan Artikel Ini

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan sejumlah layanan dasar di wilayah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT), dapat kembali berfungsi secara terbatas dalam waktu tujuh hari. Layanan dasar yang menjadi prioritas meliputi jaringan listrik, air bersih, bahan bakar minyak (BBM), hingga komunikasi.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, pemulihan layanan dasar tersebut perlu dilakukan bersamaan dengan pendataan kerusakan rumah warga.

“Saya mohon tidak usah menunggu sampai tanggap darurat selesai. Silakan mulai didata secara paralel. Begitu sudah jelas, segera kita tetapkan pembangunan, jangan sampai pendataan sekali lagi berlarut-larut,” kata Suharyanto, Minggu (16/8/2026).

Selain pemulihan layanan dasar, BNPB juga memprioritaskan pencarian dan pertolongan terhadap warga yang masih terjebak atau hilang akibat gempa. Suharyanto menginstruksikan seluruh tim gabungan di bawah koordinasi Basarnas untuk terus melakukan penyisiran hingga tidak ada lagi korban yang dilaporkan hilang.

“Kami mohon Kepala Basarnas sesuai undang-undang memimpin langsung proses pencarian pertolongan. Mohon unsur TNI-Polri dan relawan bergabung di bawah kepemimpinan Kabasarnas,” ujarnya. Untuk mempercepat distribusi bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau, BNPB juga mengerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) lintas lembaga.

Armada tersebut mencakup helikopter dan kapal laut milik TNI, Basarnas, serta BNPB. Penggunaan armada udara dan laut difokuskan untuk menjangkau daerah terisolasi dan mengirimkan kebutuhan dasar masyarakat. Bantuan yang didistribusikan antara lain bahan pangan, selimut, dan tenda pengungsian.

“Dari TNI ada 4 helikopter dan kapal laut, Basarnas mengerahkan kapal dan pesawat, serta BNPB 2 pesawat sayap lebar dan 1 helikopter. Alutsista ini kita fokuskan untuk pendistribusian logistik,” jelas Suharyanto.

Sebagai informasi, korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di NTT kembali bertambah. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat hingga Minggu (16/8/2026) pukul 09.00 WIB, total korban meninggal mencapai 51 orang. Selain itu, sebanyak 64 korban dilaporkan mengalami luka berat.

Bagikan Artikel Ini
Scroll to Top