LAMPUNG SELATAN – Daun kelor yang selama ini lebih banyak diolah sebagai sayuran ternyata bisa dikembangkan menjadi camilan menarik sekaligus memiliki nilai ekonomi. Potensi inilah yang diperkenalkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung (Unila) kepada warga Desa Way Hui, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Melalui pelatihan yang digelar di RT 06A Dusun I Desa Way Hui, warga, khususnya ibu rumah tangga dan pelaku UMKM, diajak mengolah daun kelor menjadi bolu dan cookies. Tak sekadar belajar membuat produk, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai keamanan pangan, pengemasan, pelabelan, hingga pemasaran. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan (PkM-U) Universitas Lampung melalui skema pendanaan BLU Tahun Anggaran 2026 yang dikelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lampung.
Tim pengabdian diketuai Nurullia Febriati, S.Pt., M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Ir. Sri Hidayati, M.P.; Lathifa Indraningtyas, S.TP., M.Sc.; Teguh Setiawan, S.T.P., M.Si.; dan Prasetyo Hadi Utomo, S.TP., M.T. Seluruh tim berasal dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Pemanfaatan daun kelor sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat. Tanaman ini cukup mudah ditemukan dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan keluarga. Namun, pemanfaatannya masih didominasi sebagai sayuran dan belum banyak dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Melihat potensi tersebut, tim Unila memperkenalkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan pada skala rumah tangga, yakni mengolah daun kelor menjadi bolu dan cookies. Pemilihan kedua produk itu bukan tanpa alasan. Bolu dan cookies relatif dikenal masyarakat, proses produksinya dapat diterapkan dalam usaha rumah tangga, serta memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk oleh-oleh maupun camilan yang dipasarkan secara lebih luas.
Ketua Tim Pengabdian, Nurullia Febriati, mengatakan kegiatan tersebut diarahkan agar masyarakat mulai melihat potensi bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dari sudut pandang yang berbeda. “Daun kelor tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sayuran untuk konsumsi keluarga. Dengan inovasi pengolahan yang tepat, bahan yang mudah diperoleh di sekitar masyarakat ini dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih menarik dan memiliki nilai tambah ekonomi,” ujarnya.

Warga Terlibat Langsung dalam Produksi
Pelatihan tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Tim menerapkan pendekatan learning by doing, sehingga peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan produk.
Mulai dari pemilihan dan persiapan bahan, penyusunan formulasi, pencampuran adonan, proses pemanggangan, hingga evaluasi terhadap produk yang dihasilkan dilakukan bersama-sama. Dengan cara tersebut, peserta tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung yang dapat diterapkan kembali di rumah.
Pendekatan praktik menjadi penting karena salah satu tujuan kegiatan adalah membangun kepercayaan diri peserta untuk memproduksi bolu dan cookies kelor secara mandiri.
Hasil praktik menunjukkan daun kelor dapat diolah menjadi produk yang lebih variatif dan praktis dikonsumsi. Inovasi tersebut sekaligus membuka alternatif pemanfaatan kelor agar tidak berhenti sebagai bahan pangan rumah tangga, tetapi berkembang menjadi produk yang berpotensi dipasarkan.
Tim Unila juga menekankan bahwa pengembangan produk pangan tidak cukup hanya menghasilkan makanan yang enak dan menarik. Keamanan serta konsistensi mutu menjadi bagian penting jika produk akan dikembangkan menjadi usaha. Karena itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai higiene dan sanitasi selama proses produksi. Kebersihan bahan baku, peralatan, tempat produksi, hingga cara penanganan produk setelah diolah menjadi bagian dari materi pelatihan.
Peserta juga diperkenalkan pada pentingnya kemasan dan label. Kemasan bukan sekadar pembungkus, tetapi juga berfungsi melindungi produk sekaligus membangun identitas yang membedakan produk dari produk sejenis di pasaran. Aspek pemasaran turut mendapat perhatian. Tim memperkenalkan pemanfaatan media digital sebagai salah satu sarana sederhana untuk memperluas jangkauan konsumen. Langkah ini dinilai relevan bagi usaha rumah tangga karena pemasaran dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dikembangkan melalui media sosial maupun kanal digital lainnya.
Membuka Peluang Usaha dari Potensi Lokal
Menurut Nurullia, keterampilan mengolah bahan pangan lokal diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Pengetahuan yang diperoleh peserta justru menjadi tahap awal untuk mengembangkan kegiatan produktif di tingkat rumah tangga.
“Harapannya, setelah pelatihan ini masyarakat tidak hanya mampu membuat produknya, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana menjaga mutu, membuat kemasan yang menarik, menentukan harga, dan memasarkannya. Dari sana peluang usaha rumah tangga bisa mulai tumbuh,” katanya. Ke depan, pengembangan bolu dan cookies kelor masih membutuhkan sejumlah tahapan, antara lain standardisasi formulasi dan proses produksi, peningkatan konsistensi mutu, penyempurnaan kemasan dan label, penentuan harga jual, serta penguatan strategi pemasaran.
Pendampingan berkelanjutan juga menjadi penting agar keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.
Melalui kolaborasi LPPM Universitas Lampung, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Unila, dan masyarakat Desa Way Hui, inovasi sederhana dari daun kelor tersebut diharapkan dapat berkembang lebih jauh. Bukan hanya menghadirkan alternatif camilan berbasis potensi lokal, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya usaha pangan rumah tangga yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Desa Way Hui.



