Dosen ITERA Edukasi Parenting Islami, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Berkarakter

whatsapp image 2026 09 27 at 14.15.11
Bagikan Artikel Ini

LAMPUNG — Pendidikan anak tidak berhenti ketika mereka meninggalkan ruang kelas. Rumah justru menjadi ruang pendidikan pertama dan utama dalam membentuk akhlak, karakter, kedisiplinan, serta kebiasaan ibadah anak. Karena itu, keberhasilan pendidikan membutuhkan sinergi yang kuat antara orang tua dan sekolah.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sekolah Orang Tua Hebat SD IT Ar-Ra’uf bertema “Pendidikan Parenting Ala Rasulullah”, yang digelar pada Sabtu, 26 September 2026, di Aula SD IT Ar-Ra’uf.Kegiatan yang diikuti para orang tua siswa kelas 4, 5, dan 6 tersebut menghadirkan Ustadz Muhammad Khumaidi, M.H.I., Dosen Agama Islam Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sebagai pemateri. Turut hadir Pembina Yayasan IMTAQ Ar-Ra’uf, Deasy Natalia, Amd., KKK, serta Kepala SD IT Ar-Ra’uf, Burhannudin, S.Pd.

Dalam pemaparannya, Muhammad Khumaidi mengajak para orang tua melihat kembali pola pendidikan anak yang dicontohkan Rasulullah Saw. Pendidikan dalam keluarga, menurutnya, tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus menyentuh pembentukan iman, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kematangan emosional anak.

Salah satu fondasi utama yang ditekankan adalah kasih sayang dan kedekatan emosional. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga membutuhkan kehadiran, perhatian, komunikasi, dan kasih sayang yang dapat mereka rasakan secara nyata.Kedekatan emosional tersebut menjadi pintu penting bagi orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama. Ketika hubungan antara anak dan orang tua terbangun dengan baik, nasihat, pembiasaan, dan pendidikan nilai akan lebih mudah diterima dan tumbuh menjadi bagian dari karakter anak.

Selain kasih sayang, Muhammad Khumaidi menekankan pentingnya doa dan keteladanan (uswah hasanah) dalam pendidikan keluarga. Anak tidak hanya belajar melalui apa yang didengar, tetapi lebih kuat lagi melalui apa yang dilihat dan dialami setiap hari.Karena itu, keteladanan orang tua dalam menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berbicara dengan santun, menjaga adab makan, menghormati orang lain, hingga mengelola emosi merupakan bagian penting dari proses pendidikan.

Pendidikan anak juga tidak selalu harus dimulai melalui langkah-langkah besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat membentuk karakter dalam jangka panjang. Dari rumah, anak belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, serta nilai-nilai kehidupan lainnya.Materi parenting juga menyoroti pentingnya penanaman tauhid sejak usia dini. Nilai ketauhidan dapat dikenalkan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak, seperti membiasakan berdoa, mengenalkan ayat-ayat pendek Al-Qur’an, menceritakan kisah para nabi, serta mengajak anak mengenali kebesaran Allah melalui lingkungan di sekitarnya.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama tidak berhenti pada kemampuan menghafal atau mengetahui konsep keagamaan, tetapi diarahkan agar nilai-nilai Islam menjadi bagian dari cara anak memahami dan menjalani kehidupan. Prinsip berikutnya adalah membangun disiplin dan tanggung jawab melalui pembiasaan. Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana, seperti membiasakan anak menjaga waktu salat, merapikan barang miliknya, membantu pekerjaan ringan di rumah, serta menyelesaikan tanggung jawab sesuai usia dan kemampuannya.

Pada saat yang sama, kedisiplinan perlu dibangun dengan kasih sayang dan konsistensi, bukan sekadar melalui perintah dan hukuman. Anak perlu memahami alasan di balik sebuah aturan sehingga secara bertahap tumbuh kesadaran untuk menjalankannya. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya orang tua memahami fitrah dan keunikan setiap anak. Setiap anak memiliki karakter, minat, kemampuan, dan proses perkembangan yang berbeda.

Karena itu, orang tua didorong untuk tidak mudah membandingkan anak dengan saudara, teman, maupun anak lainnya. Tugas orang tua adalah mengenali potensi tersebut, memberikan apresiasi terhadap proses yang dijalani anak, serta mengarahkannya agar berkembang secara positif. Melalui pendekatan tersebut, pendidikan keluarga diharapkan tidak hanya melahirkan anak yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga anak yang memiliki kepercayaan diri, tanggung jawab, akhlak yang baik, dan fondasi keimanan yang kuat.

Kepala SD IT Ar-Ra’uf, Burhannudin, S.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Orang tua memiliki peran yang sangat menentukan karena sebagian besar kehidupan dan pembentukan kebiasaan anak berlangsung di lingkungan keluarga.

“Pendidikan anak membutuhkan sinergi antara orang tua dan sekolah. Orang tua juga harus terus belajar, karena tantangan dalam mendidik anak terus berkembang,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, menjadi orang tua merupakan proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat. Perubahan lingkungan sosial, perkembangan teknologi, serta derasnya arus informasi membuat tantangan pendidikan anak saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena itu, sekolah dan keluarga perlu terus membangun komunikasi dan kesamaan arah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Kegiatan Sekolah Orang Tua Hebat tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Agama Islam ITERA. Keterlibatan dosen dalam kegiatan parenting diharapkan dapat memperluas manfaat keilmuan perguruan tinggi agar tidak hanya berkembang di lingkungan kampus, tetapi juga hadir menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penguatan pendidikan keluarga dan pendidikan keagamaan.

Melalui kegiatan ini, para orang tua memperoleh penguatan mengenai lima prinsip penting dalam pendidikan keluarga, yakni mendidik dengan cinta, menjadi teladan yang baik, membangun disiplin ibadah, menanamkan tauhid sejak dini, serta mengenali dan mengembangkan fitrah anak. Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan keluarga diharapkan semakin kuat sehingga proses pendidikan anak dapat berlangsung secara berkesinambungan. Sekolah memberikan penguatan melalui pendidikan formal, sementara keluarga memastikan nilai-nilai tersebut tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan Artikel Ini
Scroll to Top