Bandar Lampung — Memiliki latar belakang Pendidikan Fisika dan Fisika Murni bukan menjadi batas bagi Vandan Wiliyanti, S.Pd., M.Si. untuk terus memperluas ruang pengabdian akademiknya. Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung itu kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung periode 2026–2030. Ia resmi dilantik bersama jajaran pimpinan program studi Fakultas Sains dan Teknologi pada 9 April 2026.
Penunjukan tersebut menjadi babak baru perjalanan akademik Vandan. Sebelum menjadi Ketua Program Studi, ia dipercaya sebagai Sekretaris Program Studi Kimia setelah terbentuknya Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung. Pada periode tersebut, ia terlibat dalam pengembangan kelembagaan Prodi Kimia yang relatif baru sekaligus tetap menjalankan aktivitas penelitian dan publikasi ilmiah.
Latar belakang keilmuan Vandan memang memiliki karakter yang lintas disiplin. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Lampung, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Fisika Murni dan Terapan di Universitas Indonesia dengan konsentrasi Condensed Matter Physics. Profil resmi UIN Raden Intan mencantumkan bidang penelitiannya meliputi Pendidikan Fisika, Condensed Matter Physics, Fisika Komputasi, dan STEM Education.
Dari Fisika Material hingga Komputasi
Ketertarikan Vandan terhadap penelitian sains telah tumbuh sejak pendidikan magister. Dalam Curriculum Vitae akademik yang dipublikasikan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung, ia tercatat pernah menjadi asisten peneliti bidang nanomolekul dan nanoelektronik di Departemen Fisika Universitas Indonesia pada 2015–2017.
Bidang risetnya kemudian berkembang pada computational physics dan condensed matter physics, terutama penggunaan pendekatan numerik dan komputasi untuk menjelaskan fenomena fisika serta karakter material. Profil SINTA Vandan juga mencantumkan Physics Education, Computational Physics, Condensed Matter Physics, Internet of Things, dan Nanoscience sebagai bidang akademik utamanya.
Salah satu karya ilmiahnya bahkan masuk pada bidang fisika fundamental. Vandan menjadi salah satu penulis artikel “Curvature Quantization based on the Ehrenfest Paradox in the Bohr Atomic Model” yang diterbitkan dalam jurnal Astroparticle Physics. SINTA mencatat jurnal tersebut dalam kategori Q1.
Selain itu, rekam publikasinya terus berkembang. Pada 2026, sejumlah artikelnya tercatat dalam AIP Conference Proceedings, mulai dari kajian Ethno-STEM, model pembelajaran POGIL, STEM dalam pembelajaran fisika, hingga bibliometric review mengenai e-pocket book untuk pendidikan fisika.
Produktif Menulis dan Memiliki Ribuan Sitasi
Produktivitas akademik menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Vandan. Curriculum Vitae institusional yang diterbitkan pada 2025 mencatat profil Google Scholar miliknya dengan 71 dokumen, 1.746 sitasi, dan H-Index 24 pada saat CV tersebut disusun. CV itu juga mencatat Scopus Author ID 57190938604 dan ORCID 0000-0002-3883-5607.
Data SINTA terbaru yang ditelusuri pada Agustus 2026 menunjukkan SINTA Score Overall 2.150 dan SINTA Score tiga tahun 887, sekaligus menampilkan sejumlah publikasi Scopus terbarunya pada 2024–2026.
Rekam tersebut menunjukkan bahwa aktivitas akademiknya tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga pada publikasi, pengembangan teknologi pembelajaran, dan penelitian kolaboratif.
Menggabungkan Sains dengan AI dan Internet of Things
Perkembangan riset Vandan kemudian bergerak lebih jauh menuju teknologi digital. Salah satu gagasan yang ia kembangkan adalah pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) untuk menyelesaikan persoalan lingkungan.
Pada 2025, Vandan lolos sebagai peserta Open Panel Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) ke-24. Dalam forum tersebut ia mengajukan penelitian berjudul “Design of an IoT- and AI-Enabled Smart Filtration System for Sustainable Mosque Ablution Water Management.” Dari 2.434 abstrak yang masuk dari 31 negara, sebanyak 234 abstrak dinyatakan lolos untuk tahap Open Panel.
Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dipertemukan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sistem yang dikembangkan diarahkan pada pemanfaatan kembali air wudu melalui mekanisme filtrasi cerdas sehingga mendukung efisiensi air dan prinsip keberlanjutan di lingkungan masjid. Kajian mengenai pengolahan air limbah wudu dan pemanenan air hujan juga telah dikembangkan bersama mahasiswa profesi insinyur Universitas Indonesia.
Belajar Blockchain hingga Quantum Computing
Ketertarikannya pada teknologi juga membawa Vandan ke forum internasional. Pada September 2025, ia terpilih mengikuti Governance for New Leadership Program yang diselenggarakan Polkadot Blockchain Academy di Nusa Dua, Bali. Program tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, serta peserta internasional untuk mempelajari blockchain, tata kelola digital, Web3, tokenisasi, dan teknologi masa depan.
Dalam program tersebut, peserta juga memperoleh pembelajaran langsung dari Dr. Gavin Wood, pendiri Polkadot dan salah satu pendiri Ethereum. Bagi Vandan, wawasan blockchain membuka kemungkinan baru dalam keamanan data riset, transparansi, kolaborasi internasional, hingga pendanaan penelitian. Ia juga melihat keterkaitannya dengan pengembangan Quantum Computing dan Fisika Komputasi.
Perjalanan tersebut memperlihatkan karakter akademiknya yang adaptif. Fisika tidak lagi hanya ditempatkan sebagai ilmu mengenai fenomena alam, tetapi juga menjadi dasar untuk memahami komputasi, teknologi digital, material, AI, hingga pengembangan sistem cerdas.
Menghasilkan Inovasi dan Kekayaan Intelektual
Aktivitas riset Vandan juga menghasilkan berbagai produk kekayaan intelektual. Data SINTA tahun 2026 mencatat keterlibatannya dalam sejumlah HKI, di antaranya media pembelajaran Virtual Reality pada materi usaha dan energi, FluxMAT—perangkat kuis elektromagnetik berbasis MATLAB, sistem portabel pemantauan suhu dan kelembapan berbasis IoT, serta sistem informasi penerimaan mahasiswa baru yang terintegrasi AI Chatbot.
Karya-karya tersebut memperlihatkan konsistensi dalam menggabungkan fisika, pendidikan, komputasi, IoT, AI, dan teknologi digital.
Di tengah berkembangnya pendidikan berbasis teknologi, pendekatan seperti ini semakin relevan karena mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga membutuhkan pengalaman dalam mendesain, menguji, dan menerapkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Kini Memimpin Program Studi Kimia
Kepercayaan sebagai Ketua Program Studi Kimia menjadi tantangan sekaligus peluang baru bagi Vandan. Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung membutuhkan pengembangan kurikulum, penelitian, laboratorium, jejaring akademik, dan budaya riset yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan global.
Sebagai Kaprodi, Vandan telah terlibat dalam penguatan pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE). Pada April 2026, ia bersama Sekretaris Prodi Kimia Nurmala, M.Sc. dan dosen Kimia mengikuti proses asesmen, review, dan finalisasi RPS berbasis OBE di Fakultas Sains dan Teknologi.
Latar belakangnya dalam pendidikan, fisika komputasi, STEM, teknologi digital, dan riset interdisipliner memberikan warna tersendiri dalam memimpin Program Studi Kimia.
Hal itu juga menunjukkan bahwa batas antar-disiplin ilmu semakin terbuka. Kimia modern kini berkembang beriringan dengan fisika material, nanoteknologi, komputasi, artificial intelligence, data science, instrumentasi, dan Internet of Things. Rekam penelitian Vandan berada pada wilayah pertemuan berbagai bidang tersebut.
Sains yang Dekat dengan Masyarakat
Di luar aktivitas penelitian, Vandan turut terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat. Ia pernah menjadi Dosen Pembimbing Lapangan KKN sekaligus menjadi pemateri sosialisasi pencegahan stunting kepada masyarakat di Kabupaten Pesawaran.
Kegiatan semacam itu memperlihatkan bahwa peran dosen sains tidak harus selalu berada di laboratorium. Pengetahuan akademik juga perlu diterjemahkan menjadi solusi dan edukasi yang dapat dirasakan masyarakat.
Mendorong Kimia UIN Raden Intan Lebih Adaptif dan Inovatif
Dengan pengalaman di bidang Pendidikan Fisika, Condensed Matter Physics, Fisika Komputasi, STEM, Nanoscience, AI, IoT, dan teknologi digital, Vandan membawa modal multidisipliner dalam memimpin Program Studi Kimia. Karakter akademiknya dapat ditempatkan pada irisan antara science, computation, education, sustainability, dan emerging technology.
Kini, sebagai Ketua Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Intan Lampung periode 2026–2030, tantangannya tidak hanya mempertahankan produktivitas pribadi, tetapi juga membangun ekosistem akademik yang mendorong dosen dan mahasiswa lebih aktif meneliti, berinovasi, berkolaborasi, dan menghasilkan karya yang mampu bersaing pada tingkat nasional maupun internasional.
Perjalanan Vandan Wiliyanti menunjukkan wajah akademisi muda yang tidak berhenti pada satu bidang keilmuan. Dari Pendidikan Fisika menuju Condensed Matter Physics, dari pembelajaran STEM menuju Fisika Komputasi, dari nanoscience menuju IoT, AI dan blockchain, hingga kini dipercaya memimpin Program Studi Kimia.
Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa sains berkembang ketika keberanian belajar, riset, teknologi, dan kolaborasi berjalan bersama.



