Bandar Lampung — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan mulai mengubah cara bahasa Inggris dipelajari di perguruan tinggi. Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian Kartika S., M.Pd., dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang konsisten mengembangkan kajian English as a Foreign Language (EFL), teknologi pembelajaran, keterampilan menulis, dan pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pendidikan.
Profil Google Scholar Kartika mencantumkan afiliasi English Education, UIN Raden Intan Lampung, dengan email institusi terverifikasi pada domain radenintan.ac.id. Tiga bidang yang ditampilkan sebagai fokus akademiknya adalah EFL, Technology, dan Writing. Di lingkungan UIN Raden Intan Lampung, Kartika juga tercatat sebagai dosen tetap pada Fakultas Syariah. Laman resmi Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah memasukkan Kartika S., M.Pd. dalam jajaran dosen tetap. Keterlibatannya di Fakultas Syariah membuat aktivitas akademiknya memiliki karakter menarik: mengembangkan kompetensi bahasa Inggris sekaligus berinteraksi dengan disiplin hukum Islam dan isu-isu sosial kontemporer.
Dari Writing hingga Artificial Intelligence
Ketertarikan Kartika terhadap pembelajaran bahasa Inggris telah terlihat dari karya-karya awalnya. Pada 2017, ia mempublikasikan penelitian berjudul “An Analysis of Students’ Ability in Retelling Narrative Text in Written Form” dalam English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris. Kajian tersebut memotret kemampuan mahasiswa dalam mengonstruksi kembali teks naratif dalam bentuk tulisan, salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Seiring berkembangnya teknologi pendidikan, arah penelitiannya ikut berkembang. Pada 2022, Kartika menerbitkan “Local English Students’ Voices on Virtual Learning during Pandemic COVID-19”. Penelitian tersebut mengkaji pengalaman mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran daring dan menemukan bahwa mahasiswa melihat sejumlah manfaat pembelajaran online, tetapi tetap menghadapi persoalan keterlibatan, kenyamanan belajar, disiplin, dan akses internet.
Perhatian terhadap writing dan keterlibatan mahasiswa kemudian berlanjut melalui penelitian “Engagement to Excellence: Exploring the Correlation Between Student Participation and Writing Proficiency” pada 2024. Tema tersebut menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan kajian keterampilan menulis, tetapi dengan perhatian yang semakin kuat terhadap proses dan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran.
Memasuki era kecerdasan buatan, kajian Kartika semakin bergeser menuju integrasi antara bahasa, teknologi, dan AI.
Pada 2025, ia menulis “The Role of Generative AI in Automating English Writing Assessment: Benefits and Challenges”, yang membahas peluang sekaligus tantangan penggunaan AI generatif dalam penilaian tulisan bahasa Inggris. Data SINTA menunjukkan karya tersebut telah memperoleh sitasi meskipun relatif baru diterbitkan.
Pada tahun yang sama, ia juga menerbitkan penelitian mengenai Artificial Intelligence Awareness and Readiness among Undergraduate Students in Islamic Higher Education, memperluas kajian dari penggunaan teknologi secara teknis menuju kesiapan mahasiswa pendidikan tinggi Islam menghadapi perkembangan AI.
Membawa AI ke Ruang Pembelajaran Bahasa
Perkembangan tersebut semakin terlihat pada 2026 ketika Kartika mempublikasikan penelitian “Generative AI and Students’ Understanding of Language Variation in a Sociolinguistics Course: Evidence from UIN Raden Intan Lampung.”
Penelitian ini menggunakan desain mixed methods untuk melihat bagaimana mahasiswa memanfaatkan AI generatif ketika mempelajari konsep variasi bahasa dalam mata kuliah Sosiolinguistik. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa sarjana UIN Raden Intan Lampung dan menempatkan AI bukan sekadar sebagai perangkat teknologi, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran bahasa.
Kajian tersebut menjadi relevan karena perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan baru: bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa menghilangkan daya kritis, kreativitas, dan tanggung jawab akademik mahasiswa.
Kartika kemudian membawa diskusi tersebut ke aspek yang lebih kritis. Pada 2026, ia juga menulis mengenai ethical awareness dan algorithmic bias dalam AI-Integrated Digital Learning Environment (AI-IDLE) dengan mengambil perspektif mahasiswa Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung. Tema ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap AI tidak hanya berhenti pada manfaat teknologinya, tetapi juga mulai menyentuh etika, bias algoritma, dan kesadaran pengguna.
Produktivitas Akademik yang Terus Berkembang
Berdasarkan data SINTA yang ditelusuri pada 16 Agustus 2026, rekam akademik Kartika mencatat 24 artikel di Google Scholar dengan 141 sitasi, H-Index 4, i10-Index 3, dan sembilan dokumen yang telah memperoleh sitasi. SINTA mencatat SINTA Score Overall sebesar 119 dan SINTA Score 3 Years sebesar 50.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas penelitian yang terus berkembang, terutama dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya tema-tema baru berkaitan dengan kecerdasan buatan dan pembelajaran digital. Bidang yang tercantum dalam profil SINTA juga konsisten dengan Google Scholar, yaitu EFL, Technology, dan Writing.
Akademisi dengan Karakter Lintas Disiplin
Hal lain yang membedakan perjalanan akademik Kartika adalah lingkungan keilmuannya yang lintas disiplin. Meskipun memiliki konsentrasi pada bahasa Inggris, EFL, teknologi, dan writing, aktivitas akademiknya berlangsung pula dalam lingkungan Fakultas Syariah.
Karena itu, sejumlah publikasinya bersinggungan dengan isu hukum dan sosial. Salah satunya adalah kajian mengenai perceraian pada masa pandemi COVID-19 dalam perspektif hukum Islam, yang menempatkan Kartika sebagai dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung.
Ia juga terlibat dalam penelitian mengenai peran Dinas Sosial dalam menangani anak jalanan di Kota Bandar Lampung dalam perspektif fiqh siyasah. Artikel tersebut menjadi salah satu karya yang banyak mendapatkan perhatian dan sitasi.
Pada perkembangan berikutnya, perhatiannya juga menyentuh persoalan wakaf, hukum keluarga, literasi hukum digital, dan pemberdayaan masyarakat. Pada 2025, misalnya, Kartika terlibat dalam kegiatan pengabdian berupa sosialisasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) untuk meningkatkan literasi hukum digital masyarakat Desa Way Muli.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi bahasa dan teknologi dapat berkembang berdampingan dengan persoalan hukum, sosial, dan kebutuhan masyarakat.
Teknologi untuk Pemberdayaan Masyarakat
Perhatian Kartika terhadap teknologi juga dibawa ke kegiatan pengabdian masyarakat. Ia terlibat dalam pelatihan pemanfaatan e-commerce melalui TikTok Affiliate bagi ibu-ibu PKK di Kampung Jaya Tinggi, Way Kanan. Kegiatan tersebut menggunakan perkembangan platform digital untuk mendukung penjualan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pada 2024, ia juga terlibat dalam kegiatan sosialisasi digital marketing dan etika bisnis, menunjukkan bahwa kompetensi digital yang dikembangkan tidak hanya diarahkan pada pembelajaran di kelas, tetapi juga pada pemanfaatan teknologi yang lebih luas di tengah masyarakat.
Bahasa Inggris di Tengah Transformasi Digital
Perjalanan akademik Kartika memperlihatkan perubahan menarik dalam kajian bahasa Inggris. Jika penelitian awal banyak berbicara mengenai writing, narrative text, dan kemampuan bahasa mahasiswa, penelitian terbaru telah bergerak menuju Generative AI, otomatisasi penilaian tulisan, kesiapan mahasiswa terhadap AI, pembelajaran sosiolinguistik berbantuan AI, hingga etika dan bias algoritma.
Perkembangan tersebut mencerminkan tantangan baru pendidikan bahasa Inggris. Penguasaan bahasa kini tidak cukup hanya berbicara mengenai grammar, vocabulary, reading, speaking, atau writing. Mahasiswa juga perlu memiliki digital literacy dan AI literacy agar mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Dengan latar belakang tersebut, karakter keilmuan Kartika S., M.Pd. dapat ditempatkan pada irisan antara English Language Education, EFL, Writing, Educational Technology, Artificial Intelligence, dan Digital Literacy.
Kombinasi tersebut menjadi semakin relevan seiring transformasi pendidikan tinggi yang membutuhkan dosen tidak hanya mampu mengajarkan bahasa, tetapi juga memahami bagaimana teknologi mengubah proses mahasiswa dalam membaca, menulis, berkomunikasi, dan memperoleh pengetahuan.
Melalui aktivitas pendidikan, penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat, Kartika terus memperkuat perannya sebagai dosen UIN Raden Intan Lampung yang membawa pembelajaran bahasa Inggris beradaptasi dengan perkembangan teknologi—dari ruang kelas konvensional menuju pembelajaran digital dan era Artificial Intelligence.



