BANDAR LAMPUNG – Sampah rumah tangga tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Jika dikelola sejak dari sumbernya, sampah justru dapat diolah menjadi bahan yang mendukung kegiatan produktif masyarakat. Gagasan itu yang didorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung (Unila) melalui program “Pemanfaatan Mesin Pencacah Sampah dalam Waste to Farming Mewujudkan Ketahanan Pangan Anggota Koperasi Kuntum Bunga di Bumiwaras”.
Program tersebut dilaksanakan bersama anggota Koperasi Kuntum Bunga di Bumiwaras, Bandar Lampung, dengan menggabungkan edukasi pengelolaan sampah, penerapan konsep 7R waste management, serta pemanfaatan teknologi mesin pencacah sampah sebagai bagian dari pengolahan sampah organik. Tim pengabdian dipimpin Hadi Prayitno, dengan anggota M. Irsyad, Nurcahya Nugraha, Hesti, dan Lili Chrisnawati. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa M. Iqbal Baihaqi, Ferlyansyah, Noval Jelindra, dan Fathan Rakha Wijaya. Program ini berangkat dari persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang masih dihadapi masyarakat. Pemilahan sampah belum dilakukan secara konsisten, sebagian sampah masih dibakar, sementara potensi sampah organik maupun anorganik belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Kondisi tersebut bukan hanya meningkatkan volume sampah yang dibuang, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk pencemaran udara akibat pembakaran dan risiko terhadap kualitas air tanah. Melalui pendekatan waste to farming, tim Unila mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah tidak semata-mata diposisikan sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sesuai karakteristiknya.
Sampah organik seperti daun dan sisa sayuran diarahkan untuk masuk ke proses pengolahan organik, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk digunakan kembali atau didaur ulang. “Prinsipnya, sampah harus dipilah sejak dari sumber. Tidak semua sampah harus diperlakukan dengan cara yang sama,” demikian pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian pengabdian dilakukan melalui observasi, sosialisasi, demonstrasi penggunaan mesin, hingga penyerahan alat kepada mitra. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai bahaya pembakaran sampah, dampaknya terhadap lingkungan dan air tanah, pengelolaan sampah organik untuk mendukung pemanfaatan maggot, serta pengelolaan sampah anorganik. Konsep 7R waste management juga diperkenalkan sebagai bagian dari upaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih sistematis di tingkat rumah tangga.
Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga diajak melihat langsung cara kerja mesin pencacah. Demonstrasi menunjukkan bahwa mesin lebih sesuai digunakan untuk bahan organik, seperti daun dan sisa sayuran. Setelah dicacah, ukuran bahan menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani untuk proses pengolahan berikutnya.

Hasil evaluasi terhadap 45 peserta menunjukkan respons positif terhadap kegiatan tersebut. Rata-rata peserta memperoleh skor 13,91 dari 15 soal atau mencapai 92,74 persen. Sebanyak 35 peserta atau 77,8 persen memperoleh skor antara 14 hingga 15. Capaian tersebut menunjukkan tingkat pemahaman peserta yang baik setelah mengikuti rangkaian edukasi dan demonstrasi. Pengetahuan tersebut menjadi modal penting karena keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Meski demikian, tim menegaskan bahwa mesin pencacah bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan sampah. Alat tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai teknologi pendukung pada tahap awal pengolahan sampah organik. Karena itu, sampah anorganik tetap harus dipisahkan dan diarahkan pada penggunaan kembali maupun proses daur ulang sesuai jenis materialnya. Sementara sampah organik yang sesuai dengan karakteristik mesin dapat dicacah untuk mempermudah proses pengolahan lanjutan.
Keterlibatan Koperasi Kuntum Bunga diharapkan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Koperasi dapat berperan sebagai ruang bersama untuk membangun kebiasaan pemilahan, mengatur penggunaan mesin, serta mengembangkan pemanfaatan sampah organik secara bertahap. Tim pengabdian juga merekomendasikan agar pendampingan tidak berhenti setelah penyerahan alat. Pemilahan sampah dari sumber, penerapan konsep 7R, serta pemanfaatan hasil cacahan organik perlu terus dikembangkan agar terbentuk tata kelola sampah berbasis komunitas yang berkelanjutan. Bagi Tim Unila, pendekatan waste to farming membuka peluang agar pengelolaan sampah tidak sekadar berorientasi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, masyarakat didorong untuk menemukan kembali potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif dan ketahanan pangan. Program di Bumiwaras itu pun menjadi contoh bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana: memilah dari rumah, menggunakan teknologi yang tepat, dan membangun kolaborasi melalui kelembagaan masyarakat (*).



